20 Oktober pada sabtu malam adalah hari yg pas untuk perjalanan balik ke tempat saya bekerja di Meulaboh, Aceh Barat dengan maksud setibanya pada hari minggunya saya dapat beristirahat seharian untuk menghilangkan kepenatan, bersantai-santai, membereskan kamar, membaca novel, menonton DVD, dan kegiatan2 lainnya yg dapat menghibur diri; sebab pada hari seninnya saya sudah harus memulai kembali aktifitas kerja rutin dari selama menjalaninya hari-hari libur yg cukup panjang sebelumnya. Seperti biasa perjalanan pulang maupun pergi saya lebih memilih jasa transportasi L300 karena biaya yg dikenakan untuk transportasi ini relatif lebih murah, adapun pelayanan transportasi lainnya yg dapat digunakan adalah dengan menggunakan SMAC. Dalam seumur hidup saya hanya 1 kali menaiki pesawat SMAC untuk perjalanan pulang dari Banda Aceh ke Meulaboh. SMAC yg berbaling-baling didepan awak kabin pesawat adalah pesawat kecil bertype CESSNA dengan kapasitas penumpang 8-10 orang, muatan yg dibawa oleh penumpang untuk bisa menaiki pesawat ini tidak boleh lebih dari 10 Kg. sakit sekali rasanya kuping kita apabila mendengar suara baling-balingnya yg begitu keras saat terbang di udara. Menaiki SMAC sama juga juga mengobral nyawa dalam bahaya, istilah yg lekat dan kuat yg berhinggap pada kata SMAC adalah “Siap Mati Atau Cacat” hahaha…
Perjalanan menuju Meulaboh dari Banda Aceh dengan melewati rute Sigli - Geumpang membutuhkan waktu setidaknya 8 jam, sebenarnya waktu ini dapat ditempuh dalam waktu 4 jam apabila melewati jalur Calang - Lhamno Kabupaten Aceh Jaya namun semenjak tsunami banyak jalan yg rusak berat, jembatan yg putus akibat diterjang gelombang air laut yg kuat berketinggian lebih dari 10 meter, dan kita harus melewati sungai yg lebarnya sekitar 36 meter dengan menaiki rakit. Calang juga termasuk dalam daftar tingkat kerusakan terbesar akibat dampak tsunami ke 2 setelah Banda Aceh, disusul ke 3 nya adalah
Setibanya di depan pagar mess tempat biasa kami tinggal pada hari minggu pagi pukul 8, rasa lelah dan pegal yg menjalar disekujur tubuh rasanya hilang seketika digantikan dengan senyuman lebar begitu melihat mess tempat menginap telah didepan pelupuk mata, tanpa banyak kata-kata saya langsung bergegas turun dan mengambil barang dibagasi sambil menurunkannya, lalu membawanya masuk kedalam. Kali ini suasananya berbeda tidak seperti biasanya, tidak ada sorak-sorak bergembira diruang tengah yg biasa terjadi apabila salah satu gelandang penyerang melakukan tendangan gol ke arah gawang pada salah satu channel di pesawat televisi, tidak ada ocehan cerewet dan ngelantur yg memecah kesunyian yg biasa dijeritkan oleh teman saya Takir, juga tidak ada kegaduhan ketika mendiskusikan salah satu topik yg menurut kita seru untuk dibahas, yg ada hanya sebuah rumah besar yg memiliki 6 ruang kamar tidur & 3 ruang mandi yg isinya 2 sepeda motor salah satunya Vespa dan 1 Sepeda kesayangan saya yg biasa saya pakai untuk berputar-putar mengelilingi kota Meulaboh, selebihnya kosong melompong seperti rumah yg ditinggalkan para penghuninya, mungkin para penghuninya mengetahui dengan pasti bahwa mereka hanya akan tinggal dimess itu sampai bulan desember, tidak lebih. Tidak sampai berselang 30 menit kemudian, hujan pun turun dengan lebatnya, membuat pemandangan luar yg tadinya teduh dan cerah menjadi hitam dan langitpun diliputi awan hitam tebal.
Sendiri, cuma sendiri saya dirumah itu, cuma bisa berdiam diri dikamar yg berukuran 4 x 5 meter, saya terjebak dalam dalam hujan lebat yg tiada henti sampai pagi dan binggung untuk mencari sesuatu yg dapat di cerna oleh lambung. Dalam sekejap pikiran ku seperti tercerahkan membuat ku teringat akan barang-barang yg saya beli dari Banda Aceh, dan juga beberapa buku yg diberikan dari abang ku pada saat berjumpa di kampung. Hanya dengan membaca novel, mendengar musik, menonton DVD, juga beberapa kali mengusili teman-teman ku lewat sms, hanya itu saja yg dapat membunuh hati yg sedang gundah dan juga membunuh waktu yg berjalan dalam selimut resah, sunyi dan kesendirian didalam rumah yang besar.
Pada siang harinya sekitar pukul 14.20 seluruh rongga dalam perut ku tersentak dan mulai meronta-ronta, urat saraf dalam perut seperti mengalirkan aliran listrik menuju pusat syaraf otak dengan membisiki kata-kata dengan keras “SAAAAN, MO SAMPE KAPAN LOE TAHAN TUH LAPER…”, namun saya binggung luar biasa, karena hujan yg begitu lebatnya dan terlihat sangat tidak bersahabat di luar rumah, dan mau keluar dengan kendaraan apa, saya kan gak bisa naik motor itu pun kuncinya juga gak ada, yg ada cuma sepeda keren berwarna biru yg banyak menolong keseharianku di Meulaboh. Konsekuensi yg akan terjadi apabila bersikeras keluar adalah akan terkena flu berat. Tanpa banyak pikir lagi dikarenakan dukungan penuh para anggota gerombolan saraf yg terus menerus menusuk-nusuk perut ku dengan gigihnya, dengan berat hati dan dengan sangat terpaksa saya langsung mengambil mantel dan bergegas keluar rumah bersama kekasih tersayang sepeda polygon ku.
Saat diluar mencari makan dan berada disepanjang Jl. Maneek Roo yg jaraknya 80 meter dari mess dalam keadaan basah kuyup tidak terlihat satupun warung makan yg buka, yg terlihat disepanjang jalan hanya warung kopi yg dipenuhi oleh gerombolan manusia beduduk-duduk santai yg terlihat seperti melakukan aktifitas “malas”. Diantara mereka ada yg duduk-duduk, ada yg sambil mengapit rokok pada tangan kanannya lalu mengeluarkan asap pada mulutnya, bila kita melihatnya orang itu seperti melakukannya dengan perasaan bangga, ada yg sedang duduk menonton TV, dan ada juga yg sedang ngerumpi, hati kecil ku bicara “Aahh Tidak… lagi-lagi stigma ini muncul” , begitu saya melihat tidak ada satupun warung makan yg buka saya langsung putar haluan menuju gulai kambing yg jaraknya juga tidak jauh dari Jl Maneek Ro, saya lupa nama jalan itu. Namun ternyata warung makan itu tutup, lalu dengan cepat pula saya melanjutkan pencarian warung makan berikutnya kali ini warung makan langganan saya biasa makan, biasanya kalo siang warung ini menjual bakmi mie ayam bakso dan malam harinya menjual nasi goreng kambing. Warung makan ini warung kesukaan saya selain memang sudah akrab dengan pemilik tokonya, warung makan ini memang menyungguhkan hidangan yg memang lezat untuk disantap, apalagi nasi goreng kambingnya “weeewww itu kesukaan Gue banget, enak luar biasa” nama warung makan ini adalah Montela Café. Setibanya disana entah apes atau sedang bernasib siang warung ini juga tidak membuka dagangannya, fiiiuuhhhh. Ditengah hujan yg deras dan didepan Montela Café perutku mengeluarkan suara khasnya “kriiyuuuuukkkk… ” sejenak kepala saya menadah kebawah melihat permukaan aspal jalan, tak lama kemudian dalam hitungan detik saya menadahkan kepala secara perlahan keatas, dan disaat itulah saya melihat warung makan berjarak 20 meter diseberang jalan yg menjual nasi goreng sedang membuka dagangannya, pikiran kecil ku kembali bicara ”kok tadi pas berhenti gak keliatan yah, ya sutralah” tanpa banyak cakap, pedal sepeda saya engkol menuju tempat itu. Akhirnya makan siang juga gue.
Sesampainya dimess, berjalan kembali kebiasaan rutin untuk membunuh hati yg gundah dan juga membunuh waktu yg berjalan, namun kali ini ada Makhluk baru yg menemani saya dalam kesendirian. Makhluk baru ini ternyata punya hobi untuk menganggu manusia dengan mengelitik-gelitik hidung kita, dan juga memancing-mancing agar cairan lendir menutupi penuh lubang hidung agar pemiliknya susah untuk bernafas, sepertinya mereka saat itu senang sekali dan berjingkrak-jingkrak penuh kegembiraan. makhluk bedebah itu tidak lain bernama “FLU, & BERSIN”. Terus dan terus berlangsung sampai pada ketika pukul 22.25 saya harus keluar untuk membeli makanan ringan untuk makan malam dan sahur dan juga obat untuk membunuh makhluk brengsek yg sedang bersuka cita itu. Pada saat itu hujan tidaklah selebat pada siang harinya, saya pergi menyempatkan diri ke market terdekat yg berada di Jl. Maneek Ro
Sesampainya dirumah sekitar pukul 22.40 setelah makan malam dengan Pop Mie saya meminum obat yg mengandung bahan aktif Dextromethrophan HBr, badan dengan jiwa rasanya segera ingin memisahkan dirinya mereka bertahan kukuh pada egonya masing-masing, dan sayapun tidak lagi bisa memerintahkan mereka untuk tetap saling rukun dan akur. Pandangan yg sebelumnya jelas tak lama kemudian dengan perlahan tapi pasti memudarkan seluruh penglihatan didepannya. zzzzZZZZzzzzz………
Tidak sampai selang waktu 35 menit suara diatas langit-langit kamar gaduh dengan keributan yg sangat keras “Gubrakkk… Gubrakk... Gubrak…” lagi-lagi dengan bosannya pikiran kecil ku bicara dengan lantang “ADA APA LAGI SIHHHHH…. GUE BUTUH KETENANGAN SAAT INI, RASANYA HARI INI GUE BENER-BENER APES DEH, UDAH SENDIRIAN GAK ADA TEMEN, EH SUARA DIATAS GANGGU TIDUR PULES GUE AJA, SIAL..” tak lama kemudian suara dari luar pekarangan tidak mau kalahnya dengan suara keras dari atas langit-langit kamar saya, suara ini lebih menciutkan nyali, mendetubkan detak jantung, membangunkan seluruh bulu-bulu tipis yg ada disekujur tubuh, kepunyaan suara ini sangat aneh dan sangat sulit untuk mendeteksi kepemilikan khas suaranya, suara ini sangat langka terdengar entah dari burung atau dari binatang lainnya yg jelas sangat angker, saya tidak mau berfikiran yg macam-macam yg jelas bunyinya kurang lebih seperti “ki..ki..kiik..kikk..kiikk…”. hiiii… serem wak. Menahan rasa takut dengan perlahan saya bangun dari tidur dan bergerak berjalan tertatih-tatih menuju laptop diatas meja, dan membuka aplikasi winamp sambil mengklik lagu kesukaan saya yaitu OST Anime Naruto dan menyetelnya keras-keras untuk mengusir suasana mistis yg saya rasakan saat itu, untungnya saat it saya tidur tidak mematikan lampu jadi gampang untuk menghampiri laptop yang terlihat dengan jelas diatas meja. Dalam situasi yg kalut saya sempat meng sms teman dekat ku yang bekerja pada salah satu NGO, dia mendidikasikan dirinya sebagai psikolog isi smsnya seperti ini “suasana disini hening, sunyi, senyap, belum lg suara binatang yg bolak blk melintas langit2 kamar, juga suara dr perkarangan luar, membuat diri terjaga dari tidur ber x, x dan membangkitkan suasana nyeri, angker, mistis dlm kesendirian di sebuah ruang kamar yg besar.” Namun teman saya ini ternyata lagi terlelap dalam tidur pulas, sehingga dia tidak membalas sms saya, wajar saja sih karena pada saat itu pukul 23.18 belum lagi hujan yang begitu deras membuat suhu ruangan menjadi dingin, sehingga membuat kita lebih ingin tidur daripada melakukan aktifitas lainnya. Sepertinya hari itu saya memang ditakdirkan untuk sendiri. Tidak lebih dari 15 menit suara aneh itu pun lama kelamaaan menjauh dan menghilang dari dekat jendela kamar, saya pun mengucapkan syukur sembari melafazhkan ucapan “Alhamdulillah”.
Tetap terjaga dalam kesigapan, walaupun badan rasanya sudah sangat lemah dan lelah, mata menahan perih, saya tengkurap diatas kasur sambil membuka laptop dan melihat file foto hasil bidikan abang saya selama perjalanannya di Beureunun, Garut, dan juga Takengon. Saya benar-benar tidak bisa tidur saat itu, walaupun suara yg berbau “mistis” sebelumnya telah hilang namun suara kejar-kejaran binatang entah musang atau kucing diatas langit-langit kamar tidak juga mau hilang. Saya geram, dan sempat melempar botol aqua keatas langit-langit, namun suara gaduh itu tidak mau juga hilang. Fuuuhhhhh… ini berlangsung sampai alarm di HP berbunyi untuk mengingatkan saya agar bergegas untuk bersahur, saat itu pukul 3.30 pagi. Saya sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa Pop Mie sangatlah tidak baik buat tubuh, namun apa boleh buat cuma itu yg saja yg saya punya untuk bersahur, yah hajar terus deh. Dengan bergegas saya mengambil salah satu bungkusan Pop Mie dan bergerak menuju dapur untuk menuangkan air panas pada dispenser agar mie kering ini mau mengembang dan dapat dimakan, kembalinya menuju kamar setelah saya menutup pintu kamar perasaan aneh bercampur geli mengelimuti dan menjalar pada seluruh tapak kaki kanan saya, dan ketika itu pula saya menundukkan pandangan ke arah kaki saya secara perlahan.
Kali ini pikiran kecil saya hanya bisa terdiam seribu bahasa, mungkin sudah sangat lelah karena terlalu banyak menjerit, sudah waktunya giliran mulut saya yg melantangkan suara sekeras-kerasnya sembari mengaum “AAAAAAAAAAAaaaaaaaa……”
Makhluk kecil dengan panjang 4 cm dan berdiameter 1 cm berwarna hitam, dia sangat jelek dan menjijikan, badan atas nya berwarna hitam sepertinya sedang tersenyum manis kearah ku dan melakukan pesta pora dengan menempelkan erat-erat tubuhnya pada telapak kaki kanan ku antara jempol dengan telunjuk mata kaki, makhluk ini sedang melakukan simbiosis parasitisme pada telapak kaki saya, dan sikap saya jelas akan hal ini sangatlah tegas dan berwibawa, apapun bentuk penjajahan harus saya lawan. Makhluk ini menamakan dirinya dengan nama lintah. Suatu nama profesi yg biasa digeluti oleh orang-orang yg memiliki uang banyak dan menginginkan keuntungan sesaat tanpa harus berjuang bersusah payah mencari nafkah hidup secara lazim. Lalu dengan cepat saya menaruh Pop Mie yg masih panas diatas meja, dan telunjuk tangan kanan saya mulai menyentil-nyentil makhluk hina ini untuk segera meninggalkan telapak kaki kanan saya, namun lintah ini tidak mau lepas juga sepertinya lintah ini menolehkan kepalanya kearah muka saya sembari tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya “HAHAHAHAHAHA….” Seperti terbangun dari mimpi yg sangat mencekam, kali ini pikiran kecil ku tau mau kalah dengan mulutku yg sebelumnya mengaum dengan kerasnya, kali ini dia menjeritkan sesuatu kata yg cukup kasar “LINTAH KURANG AJAR…” Pusing tujuh keliling, lintah yg menempel ini tidak mau juga melapaskan telapak kaki ku, namun dengan tidak sengaja saya melihat kaus kaki yg terletak dekat dengan jemuran handuk dan langsung saya ambil secepat-cepatnya. Pada saat itu juga saya berusaha dengan keras mengunakan kaos kaki untuk melepaskan cengkramannya yg begitu kuat, karena saya merasa jijik apabila harus memegang lintah dengan tangan untuk membuangnya dan Alhamdulillah akhirnya terlepas juga.
Apapun namanya itu segala bentuk penjajahan diatas muka bumi, maka penjajahan itu harus ditumpas sampai keakar-akarnya, sehingga dia bersih dan tidak akan tumbuh subur menyembarkan harumnya “ketakutan dan kerusakan” di muka bumi. Begitu juga dengan lintah yg mengigit telapak kaki kanan ku yg amat kusayang, ia harus mendapatkan hukuman yg seadil-adilnya karena tanpa izin yg sah telah mendaratkan dirinya dan menempelkan tubuhnya seerat-erat kepada telapak kaki saya, dan lintah jelek ini juga telah berusaha untuk menyedot darah ku, ini adalah suatu pelanggaran tindak pidana yg sangat keras. Entah dari mana dia bisa nempel begitu saja. Sepertinya telapak kaki kanan ku juga setuju untuk memberikan hukuman kepada lintah ini, buktinya telapak kaki kanan ku lah yg pertama-tama mengerakkan badan ku menuju keruang dapur untuk mencari senyawa yg dapat membunuhnya, namun senyawa itu ternyata tidak ada didapur. Senyawa itu adalah Natrium Klorida. Tidak puas dengan tidak adanya Natrium Klorida didapur Lagi-lagi telapak kaki kanan ku menuntut keadilan ditegakkan secepat-cepatnya ia melangkah masuk kekamar ku dan langsung menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi sepertinya saya menemukan senjata lain yg lebih ampuh dari NaCl untuk membunuh makhluk biadab ini, senjata ini mengandung bahan aktif HCI senjata ini bernama Vixal. Dengan cepat saya keluar dari kamar mandi dan langsung menyeprotkan cairan Vixal ke sekujur tubuh lintah, Kali ini pikiran kecil ku kembali mengeluarkan kata-kata kasarnya “MAMPUS KAU BIADAB, RASAKAN INI”
Lintah ini mengeliat dan meronta-ronta sambil mengerak-gerakan tubuhnya kesakitan, pikiran kecil ku seperti merasa iba melihat kepedihan yg dirasakan oleh sang lintah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya sang lintah mati dengan mengeluarkan cairan dari tubuhnya berwarna hitam. Saya sangat tidak keberatan terhadap sang lintah dengan menempelkan badannya pada kaki saya apabila dia menembarkan bau harumnya, atau setidaknya membuat kaki saya tampak lebih putih bersih maka saya akan membalas kebaikan itu dengan memberinya makanan apa saja yang dia sukai, seperti itulah semestinya hubungan saling menguntungkan terjadi antara keduabelah pihak.
Tak lama kemudian saya melanjutkan makan sahur saya untuk puasa Syawal dan setelah itu, setelah selesai makan saya merasakan geli bercampur jijik mengingat ketika lintah menempel pada telapak kaki saya, pada saat itu juga saya melihat kembali telapak kaki saya dan keanehanpun muncul kembali.
Kali ini ditelapak kaki kanan pada bagian antara kelingking jari kaki dengan jari manis kaki tepatnya ditengah-tengah antara itu mengeluarkan darah dan juga agak sedikit belepotan dengan darah, secara spontan saya mengucapkan kata “Aneh… ”
Lintah itu berhasil membuat ku kekurangan darah X-(
Saya pun menutup sahur saya dengan meminum air putih sambil menunggu adzan subuh mengumandang. Tak lama kemudian teman satu mess saya bernama Takir akhirnya sampai dari Banda Aceh dengan mengunakan L300. Beberapa menit kemudian adzan pun berkumandang.
Setelah selesai sholat subuh di Masjid barulah saya bisa membujurkan seluruh badan diatas empuknya kasur, kali ini saya baru benar-benar bisa dapat tidur dengan nyenyak karena suara diatas langit-langit kamar sudah tidak lagi mengganggu.
Siangnya pada hari senin, 22 Oktober pukul 10.50 saya terlambat bangun dari tidur dan sempat berdiskusi sejenak dengan Takir dan Bang Makmun teman satu kamar saya yg telah sampai dari Medan perihal rencana keberangkatan mereka siang itu ke Siemeulu untuk mendaftarkan diri pada Pencalonan Pegawai Negeri. Bang Makmun adalah lulusan S2 Teknik Sipil ITB dengan IPK diatas 3.00, sekarang dia mengajar mata kuliah Mekanika Teknik pada Universitas Tengku Umar di Meulaboh, Aceh Barat namun posisinya pada suatu badan yg dibentuk Pemerintah hanya sebagai sebagai staf ADM. Suatu bentuk ketidakadilan dimuka bumi kembali menampakkan dirinya, ketidakadilan sistem ini tentunya diciptakan terencana oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Sistem itu mengatasnamakan dirinya dengan nama “Rekomendasi, Katabelece, & Networking” . Pada hari itu saya masuk kantor pukul 12.10 siang, benar-benar hari yang melelahkan.


1 comment:
blog anda sangat bermanfaat dan penuh wawasan
Post a Comment